relasi manusia (ih tugas dadakan)
Manusia adalah makhluk sosial. Tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya, itulah yang selama ini menjadi gambaran umum mengenai teori kemanusiaan. “Bagi umat manusia, manusia lainnya adalah berharga”. Hal itu dikarenakan adanya hubungan yang saling menguntungkan antara satu individu dengan individu yang lainnya. Jika tidak begitu, mana mungkin kita membutuhkan orang lain?
Dengan landasan ini kebanyakan orang menjadi bergantung pada orang lain. Karena dinilai telah sama-sama memberikan keuntungan. Kalau begitu apa kabar dengan ketulusan? Jika semua manusia hidup untuk saling memberi dan mengambil keuntungan dari orang lain apapun bentuknya berarti bukan tidak mungkin ketulusan tidak lagi berlaku. Karena tulus artinya tanpa pamrih, tanpa balas jasa. Sedangkan yang kita lihat selama ini adalah orang-orang yang mengharapkan keuntungan dari orang lain apapun bentuknya.
Bahkan dengan Tuhan pun kita mengharapkan balasan. Manusia menjalankan ibadahnya dengan harapan mendapatkan pahala dari Tuhan. Dengan mendapatakan ketenangan batin, itu salah satu bentuk lain keuntungan. Tuhan pun mewajibkan manusia menyembah padaNya dan berterimakasih, serta bersyukur padaNya atas apa yang telah Ia ciptakan. Tentu saja menurut Derrida hal ini bukanlah merupakan “pemberian” yang sesungguhnya
Karena konsep memberi yang disuarakan oleh Derrida adalah “dalam memberi tidak ada harapan akan dikembalikan ke pemberi dalam bentuk apapun. Pemberian harus melampaui lingkaran gerak untuk memiliki kembali dan melampaui lingkaran terimakasih.” Dengan begitu sebenarnya pemberian tidak pernah terjadi. Karena dengan memberi kita mendapatkan ucapan terimakasih sebagai pengakuan.
Namun sebagaimana yang diajarkan orang tua ketika kita kecil dulu, kita harus mengucapkan “terimakasih” pada setiap orang yang telah berbuat baik pada kita. Karena dengan itu kita diajarkan untuk bersopan santun dan sopan santun itu baik. Kita juga diajarkan untuk selalu bersyukur karena bersyukur adalah salah satu bentuk kerendahan hati manusia dan ketulusan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana adanya.
Ada atau tidaknya ketulusan, bagaimanapun bentuknya sebuah pemberian. Ketergantungan manusia akan manusia lain membentuk suatu relasi yang mengutamakan keuntungan bagi masing-masing individu. “take and give” memberi dan menerima dengan berdasarkan simbiosis mutualisme untuk memenuhi kepuasan hidup manusia, memeprtegas anggapan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup tanpa orang lain, dalam hal ini manusia tidak mampu hidup tanpa orang lain yang memberikan keuntungan pada dirinya. Maka jelas sudah pengertian dari “Bagi umat manusia, manusia lainnya adalah berharga”. Karena setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda untuk saling melengkapi.