memandang realitas (tugas lagi sih sebenernya…)
Setting : suasana weekend di salah satu Mall terbesar di kota Bandung. Hari hujan, mall penuh sesak karena weekend kali ini bertepatan dengan tanggal muda. Tanggal kebanyakan orang yang bekerja meneriama upah kerja mereka.
Chapter 1:
Empat orang perempuan muda berusia 23-25 tahun membawa berkantong- kantong belanjaan. satu orang diantara mereka sibuk menelepon, (“kamu jadi jemput aku kan…?bla bla bla…”) satu orang sibuk melihat-lihat etalase toko yang memajang tas-tas seharga diatas limaratus ribu. Dua orang terakhir asyik mengobrol mengenai hasil belanjaan mereka. (“wah…keren banget ga sih sepatu aku…? Limited edition lho… makanya harganya segini, tapi worth it lah…”, “ya iyalah…secara tu sepatu asli dari paris gitu…merek kan ga pernah boong…“). Mereka memasuki gerai tas tersebut, tanpa permisi melewati seorang pria yang sedang sibuk mengepel lantai.
Chapter 2 :
Seorang pria berusia 20 tahun berpakaian seragam mengepel lantai di koridor lantai dua mall tersebut. Di dekatnya terpampang plang berwarna kuning bertuliskan “caution, wet floor!”, berdekatan dengan gerai tas yang dimasuki perempuan perempuan di chapter pertama. Matanya menatap ke arah gerai tersebut, memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku para perempuan tadi, tatapannya berubah menjadi tatapan kosong, melamun. Namun ia kembali pada kesibukannya mengepel lantai. Para perempuan itu kembali melewatinya saat keluar dari gerai tersebut (sekali lagi tanpa permisi). Sibuk mengoceh mengenai betapa murahnya tas seharga enam ratus ribu. Pria itu tertegun. Ia berpikir,harga tas tersebut setara dengan gajinya selama dua bulan.
Chapter 3
Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, dengan satu troli belanjaan menunggu hujan reda di pintu keluar mall, terus berbicara di telepon, satu tangannya memegang troli, dan tangan yang lain memegang handphone, sibuk berbicara dengan seseorang yang ia telepon. “ok, setelah urusan saya di Jakarta beres saya segera berangkat ke London… soal visa, blablabla…”lalu dua anak lelaki kecil, menghampirinya. Menawarkan ojek payung. Perempuan itu memberi isyarat dengan anggukan kepala, karena ia masih menelepon. Lalu berjalan di bawah payung bersama dua orang anak. Satu orang memayunginya dengan payung yang lebar, satu orang lagi mendorong troli belanjaan perempuan tesebut, sampai mereka tiba di lapangan parkir, perempuan itu memberikan dua lembr limaribuan pada dua anak kecil tersebut, lalu menaiki mobilnya setelah sebelumya memuat barang belanjaannya dalam bagasi, kemudian ia pergi.
Dua orang anak lelaki tersebut bersorak kegirangan berlari kecil ke gerbang mall, menemui ibu mereka yang menunggu di gerbang mall, dan memberikan uang hasil kerja mereka kepada sang ibu.
***
Ketiga chapter di atas menggambarkan bahwa terdapat keragaman dalam realitas yang dialami setiap manusia. Realitas pada Manusia tidak semata mata terbentuk dengan sendirinya. Manusialah yang menentukan realitas seperti apa yang akan ia jalani. Perbedaan realitas terjadi akibat adanya perbedaan pola pikir manusia. Dan pola pikir manusia tersebut ditentukan oleh cara dan lingkungan sekitar manusia tersebut. Dan lingkungan manusia dipengaruhi oleh pilihan manusia itu sendiri. jadi bisa dibilang realitas yang dijalani setiap manusia adalah pilihan mereka. Karena itu terdapat berbagai perbedaan antara realitas yang satu dan yang lain karena manusia memiliki pilihan yang berbeda untuk menjalani realitas mereka.
Keragaman realitas yang terjadi, menciptakan perbedaan sudut pandang dalam melihat realitas tersebut. Misalnya pandangan saya mengenai realitas yang ada pada kehidupan para anak jalanan, yang saya nilai hanya mengganggu lalu lintas, dan tidak jelas pekerjaannya, belum tentu sama dengan teman saya yang memandang anak jalanan sebagai orang-orang yang berusaha keras dengan segala keterbatasan mereka.
Lalu bagaimana caranya menyikapi keragaman realitas? Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menyikapi keragaman itu, karena keragaman adalah bagian dari realitas itu sendiri dan yang bisa kita lakukan adalah, hidup dan menjalani realitas kita dalam keragaman tersebut.
Punya boyaz, tau…