Archive for October, 2008

tentang SATU

Tuesday, October 7th, 2008

Berhentilah!

Berhenti membicarakan perbedaan…

Mengkotak-kotakan siapa kamu, siapa aku

Kamu itu apa, dan aku itu apa

Siapa Pencipta mu, siapa Penciptaku

Berhentilah berbicara tentang mereka!

Mereka tak mengerti…

Kita diciptakan oleh sang SATU

Yang dalam penciptaanNya ia mungkin lupa memikirkan…

Bahwa wujud kita ini akan melupakan ke SATU anNya

Ia membiarkan kita berpikir…

Dan mencari

Tanpa mengira proses pencarian dan pemikiran itu yang telah membuat kita lupa

Bahwa Ia adalah SATU…

Ia SATU,

Ia ada untuk mu,untuk ku, untuk mereka…untuk semua.

Lalu..apalagi yang kita bicarakan?

Ia mencipta kita dalam satu cinta

Kita hidup dan menghamba padaNya,

SATU Ia…

CintaNya pada kita SATU

Lantas apa yang kita lakukan?

Sibuk memisah-misah, memilah-milah, mencoba mencari kebenaran sendiri

Melupakan cintaNya yang SATU, tanpa pengecualian tanpa batasan.

Dengan keegoisan diri diselubungi Keyakinan..

Aku pun begitu,

Aku YAKIN

Aku PERCAYA

Pada cinta yang hanya SATU,

Pada kebenaran yang SATU

Kebenaran dari sang pencipta yang hanya SATU

memandang realitas (tugas lagi sih sebenernya…)

Tuesday, October 7th, 2008

Setting : suasana weekend di salah satu Mall terbesar di kota Bandung. Hari hujan, mall penuh sesak karena weekend kali ini bertepatan dengan tanggal muda. Tanggal kebanyakan orang yang bekerja meneriama upah kerja mereka.

Chapter 1:

Empat orang perempuan muda berusia 23-25 tahun membawa berkantong- kantong belanjaan. satu orang diantara mereka sibuk menelepon, (“kamu jadi jemput aku kan…?bla bla bla…”) satu orang sibuk melihat-lihat etalase toko yang memajang tas-tas seharga diatas limaratus ribu. Dua orang terakhir asyik mengobrol mengenai hasil belanjaan mereka. (“wah…keren banget ga sih sepatu aku…? Limited edition lho… makanya harganya segini, tapi worth it lah…”, “ya iyalah…secara tu sepatu asli dari paris gitu…merek kan ga pernah boong…“). Mereka memasuki gerai tas tersebut, tanpa permisi melewati seorang pria yang sedang sibuk mengepel lantai.

Chapter 2 :

Seorang pria berusia 20 tahun berpakaian seragam mengepel lantai di koridor lantai dua mall tersebut. Di dekatnya terpampang plang berwarna kuning bertuliskan “caution, wet floor!”, berdekatan dengan gerai tas yang dimasuki perempuan perempuan di chapter pertama. Matanya menatap ke arah gerai tersebut, memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku para perempuan tadi, tatapannya berubah menjadi tatapan kosong, melamun. Namun ia kembali pada kesibukannya mengepel lantai. Para perempuan itu kembali melewatinya saat keluar dari gerai tersebut (sekali lagi tanpa permisi). Sibuk mengoceh mengenai betapa murahnya tas seharga enam ratus ribu. Pria itu tertegun. Ia berpikir,harga tas tersebut setara dengan gajinya selama dua bulan.

Chapter 3

Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, dengan satu troli belanjaan menunggu hujan reda di pintu keluar mall, terus berbicara di telepon, satu tangannya memegang troli, dan tangan yang lain memegang handphone, sibuk berbicara dengan seseorang yang ia telepon. “ok, setelah urusan saya di Jakarta beres saya segera berangkat ke London… soal visa, blablabla…”lalu dua anak lelaki kecil, menghampirinya. Menawarkan ojek payung. Perempuan itu memberi isyarat dengan anggukan kepala, karena ia masih menelepon. Lalu berjalan di bawah payung bersama dua orang anak. Satu orang memayunginya dengan payung yang lebar, satu orang lagi mendorong troli belanjaan perempuan tesebut, sampai mereka tiba di lapangan parkir, perempuan itu memberikan dua lembr limaribuan pada dua anak kecil tersebut, lalu menaiki mobilnya setelah sebelumya memuat barang belanjaannya dalam bagasi, kemudian ia pergi.

Dua orang anak lelaki tersebut bersorak kegirangan berlari kecil ke gerbang mall, menemui ibu mereka yang menunggu di gerbang mall, dan memberikan uang hasil kerja mereka kepada sang ibu.

***

Ketiga chapter di atas menggambarkan bahwa terdapat keragaman dalam realitas yang dialami setiap manusia. Realitas pada Manusia tidak semata mata terbentuk dengan sendirinya. Manusialah yang menentukan realitas seperti apa yang akan ia jalani. Perbedaan realitas terjadi akibat adanya perbedaan pola pikir manusia. Dan pola pikir manusia tersebut ditentukan oleh cara dan lingkungan sekitar manusia tersebut. Dan lingkungan manusia dipengaruhi oleh pilihan manusia itu sendiri. jadi bisa dibilang realitas yang dijalani setiap manusia adalah pilihan mereka. Karena itu terdapat berbagai perbedaan antara realitas yang satu dan yang lain karena manusia memiliki pilihan yang berbeda untuk menjalani realitas mereka.

Keragaman realitas yang terjadi, menciptakan perbedaan sudut pandang dalam melihat realitas tersebut. Misalnya pandangan saya mengenai realitas yang ada pada kehidupan para anak jalanan, yang saya nilai hanya mengganggu lalu lintas, dan tidak jelas pekerjaannya, belum tentu sama dengan teman saya yang memandang anak jalanan sebagai orang-orang yang berusaha keras dengan segala keterbatasan mereka.

Lalu bagaimana caranya menyikapi keragaman realitas? Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menyikapi keragaman itu, karena keragaman adalah bagian dari realitas itu sendiri dan yang bisa kita lakukan adalah, hidup dan menjalani realitas kita dalam keragaman tersebut. :)

Punya boyaz, tau…

relasi manusia (ih tugas dadakan)

Tuesday, October 7th, 2008

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya, itulah yang selama ini menjadi gambaran umum mengenai teori kemanusiaan. “Bagi umat manusia, manusia lainnya adalah berharga”. Hal itu dikarenakan adanya hubungan yang saling menguntungkan antara satu individu dengan individu yang lainnya. Jika tidak begitu, mana mungkin kita membutuhkan orang lain?

Dengan landasan ini kebanyakan orang menjadi bergantung pada orang lain. Karena dinilai telah sama-sama memberikan keuntungan. Kalau begitu apa kabar dengan ketulusan? Jika semua manusia hidup untuk saling memberi dan mengambil keuntungan dari orang lain apapun bentuknya berarti bukan tidak mungkin ketulusan tidak lagi berlaku. Karena tulus artinya tanpa pamrih, tanpa balas jasa. Sedangkan yang kita lihat selama ini adalah orang-orang yang mengharapkan keuntungan dari orang lain apapun bentuknya.

Bahkan dengan Tuhan pun kita mengharapkan balasan. Manusia menjalankan ibadahnya dengan harapan mendapatkan pahala dari Tuhan. Dengan mendapatakan ketenangan batin, itu salah satu bentuk lain keuntungan. Tuhan pun mewajibkan manusia menyembah padaNya dan berterimakasih, serta bersyukur padaNya atas apa yang telah Ia ciptakan. Tentu saja menurut Derrida hal ini bukanlah merupakan “pemberian” yang sesungguhnya

Karena konsep memberi yang disuarakan oleh Derrida adalah “dalam memberi tidak ada harapan akan dikembalikan ke pemberi dalam bentuk apapun. Pemberian harus melampaui lingkaran gerak untuk memiliki kembali dan melampaui lingkaran terimakasih.” Dengan begitu sebenarnya pemberian tidak pernah terjadi. Karena dengan memberi kita mendapatkan ucapan terimakasih sebagai pengakuan.

Namun sebagaimana yang diajarkan orang tua ketika kita kecil dulu, kita harus mengucapkan “terimakasih” pada setiap orang yang telah berbuat baik pada kita. Karena dengan itu kita diajarkan untuk bersopan santun dan sopan santun itu baik. Kita juga diajarkan untuk selalu bersyukur karena bersyukur adalah salah satu bentuk kerendahan hati manusia dan ketulusan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana adanya.

Ada atau tidaknya ketulusan, bagaimanapun bentuknya sebuah pemberian. Ketergantungan manusia akan manusia lain membentuk suatu relasi yang mengutamakan keuntungan bagi masing-masing individu. “take and give” memberi dan menerima dengan berdasarkan simbiosis mutualisme untuk memenuhi kepuasan hidup manusia, memeprtegas anggapan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup tanpa orang lain, dalam hal ini manusia tidak mampu hidup tanpa orang lain yang memberikan keuntungan pada dirinya. Maka jelas sudah pengertian dari “Bagi umat manusia, manusia lainnya adalah berharga”. Karena setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda untuk saling melengkapi.